Muji saat menunjukkan padi yang dimakan tikus. Foto: Manda
Kabarasta- Disaat mendekati musim panen, petani di Kelurahan Tambahrejo justru menghadapi masalah serius. Serangan hama tikus merusak tanaman padi mereka. Tanaman yang baru berusia dua bulan kini terancam pemangkasan akibat invasi hama yang terjadi secara acak.
Jumarno, seorang petani setempat, mengungkapkan betapa besar dampak kerusakan yang dialaminya.
"Sekitar setengah hektar lahan padi saya hancur berantakan. Tahun ini, serangan tikus memang luar biasa," keluhnya Rabu (20/1).
Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Upaya untuk mengusir tikus telah dilakukan dengan berbagai cara. Namun semuanya sia-sia.
"Kami sudah mencoba racun dan bahkan menutup lubang-lubang tikus dengan karbit, tetapi semua sia-sia. Tikus seolah semakin banyak," tambah Jumarno frustasi.
Hal senada juga diungkapkan Muji, petani lain yang merasakan dampak serupa.
"Hama tikus sekarang jadi masalah besar. Kami sudah menggunakan berbagai obat, namun hasilnya nihil. Kerugian sulit dihitung karena serangan datang dari berbagai arah," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan (TPHPP) Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Rosalia Diah Erawati mengakui serangan hama tikus menjadi ancaman petani saat ini. Sebanyak 4 Kecamatan menjadi wilayah endemis.
"Memang benar, hama tikus menjadi perhatian utama saat ini, terutama di 4 kecamatan yang teridentifikasi sebagai daerah endemis, yaitu Kecamatan Cepu, Kradenan, Kedungtuban, dan sebagian Cepu. Kami telah memberikan dukungan, termasuk bantuan kandang burung hantu untuk memperkuat pengendalian hama," katanya.
Para petani Blora kini berharap ada jalan keluar untuk mengatasi masalah ini dan mengembalikan harapan mereka akan hasil pertanian yang optimal.
(Men/Redaksi)
Posting Komentar