Kabarasta- Kemarau panjang membuat Embung Sambongan di Desa Jepangrejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai mengering. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sektor pertanian karena pasokan air untuk mengairi lahan warga berkurang drastis.
Pantauan di lokasi menunjukkan tanah di dasar embung mulai retak-retak. Sejumlah bagian embung juga terlihat mengalami kerusakan. Kondisi ini membuat warga khawatir karena embung selama ini menjadi salah satu sumber air untuk mengairi lahan pertanian di wilayah Jepangrejo.
Dampak kekeringan paling dirasakan para petani jagung. Puluhan hektare lahan pertanian mengalami gagal panen akibat tanaman kekurangan pasokan air. Buah jagung tidak dapat berkembang secara maksimal sehingga hasil panen menurun bahkan terancam tidak dapat dipanen.
Salah seorang petani, Wiji, mengatakan kondisi embung yang mengering membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Para petani kini hanya dapat mengandalkan hujan untuk menyelamatkan tanaman mereka.
" Susah mas, gak ada hujan. Embung juga kering gak bisa diambil airnya. Iya biasanya petani yang sawahnya dekat embung ambilnya ya di situ (embung), Kalau yang jauh di sungai ambilnya," kata Wiji.
Dengan kondisi embung yang semakin mengering, petani kini hanya bisa pasrah dan berharap hujan segera turun. Mereka berharap adanya perhatian dan penanganan agar ketersediaan air untuk pertanian dapat kembali
Embung Sambongan selama ini berfungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian warga Desa Jepangrejo. Banyak petani mengandalkan ketersediaan air dari embung tersebut, terutama untuk memenuhi kebutuhan tanaman saat curah hujan rendah.
Kepala Dusun Jepangrejo, Kustadi Ramli, mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini berdampak pada lahan pertanian warga. Puluhan hektare tanaman jagung terdampak karena tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.
" Sudah 2 bulanan ini mengering. Kalau dampaknya ya sebagian besar gagal panen. Ada 80 persen lah jagung yang gagal panen," ungkapnya.
Kustadi mengaku, embung sambongan memang setiap tahun di musim kemarau selalu mengering. Sebab di wilayahnya memang sulit sumber mata air.
" Kalau embungnya setiap tahun kalau kemarau ya kering gini mas. Kan disini ga ada sumber mata air. Paling untuk tadah hujan saja," terangnya.
Pihaknya pun berharap diperbanyak adanya bantuan sumur-sumur gowak di desanya. Sebab, didesanya sumber air banyak ditemukan di kedalaman yang dangkal.
" Harapannya bantuan sumur gowak itu diperbanyak di beberapa titik. Karena kalau di bor itu pasti tidak ada sumber. Karena disini itu sumbernya malah di kedalam yang dangkal seperi di kedalaman 8 sampai 9 meter," ujarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan tanah di dasar embung mulai retak-retak. Sejumlah bagian embung juga terlihat mengalami kerusakan. Kondisi ini membuat warga khawatir karena embung selama ini menjadi salah satu sumber air untuk mengairi lahan pertanian di wilayah Jepangrejo.
Dampak kekeringan paling dirasakan para petani jagung. Puluhan hektare lahan pertanian mengalami gagal panen akibat tanaman kekurangan pasokan air. Buah jagung tidak dapat berkembang secara maksimal sehingga hasil panen menurun bahkan terancam tidak dapat dipanen.
Salah seorang petani, Wiji, mengatakan kondisi embung yang mengering membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Para petani kini hanya dapat mengandalkan hujan untuk menyelamatkan tanaman mereka.
" Susah mas, gak ada hujan. Embung juga kering gak bisa diambil airnya. Iya biasanya petani yang sawahnya dekat embung ambilnya ya di situ (embung), Kalau yang jauh di sungai ambilnya," kata Wiji.
Dengan kondisi embung yang semakin mengering, petani kini hanya bisa pasrah dan berharap hujan segera turun. Mereka berharap adanya perhatian dan penanganan agar ketersediaan air untuk pertanian dapat kembali
Embung Sambongan selama ini berfungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian warga Desa Jepangrejo. Banyak petani mengandalkan ketersediaan air dari embung tersebut, terutama untuk memenuhi kebutuhan tanaman saat curah hujan rendah.
Kepala Dusun Jepangrejo, Kustadi Ramli, mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini berdampak pada lahan pertanian warga. Puluhan hektare tanaman jagung terdampak karena tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.
" Sudah 2 bulanan ini mengering. Kalau dampaknya ya sebagian besar gagal panen. Ada 80 persen lah jagung yang gagal panen," ungkapnya.
Kustadi mengaku, embung sambongan memang setiap tahun di musim kemarau selalu mengering. Sebab di wilayahnya memang sulit sumber mata air.
" Kalau embungnya setiap tahun kalau kemarau ya kering gini mas. Kan disini ga ada sumber mata air. Paling untuk tadah hujan saja," terangnya.
Pihaknya pun berharap diperbanyak adanya bantuan sumur-sumur gowak di desanya. Sebab, didesanya sumber air banyak ditemukan di kedalaman yang dangkal.
" Harapannya bantuan sumur gowak itu diperbanyak di beberapa titik. Karena kalau di bor itu pasti tidak ada sumber. Karena disini itu sumbernya malah di kedalam yang dangkal seperi di kedalaman 8 sampai 9 meter," ujarnya.
(Men/Redaksi)
Posting Komentar