Rutin Krisis Air Saat Kemarau, Kadus Jepangrejo Berharap Bantuan Sumur Diperbanyak. Foto: Manda
Kabarasta- Kemarau panjang membuat warga Desa Jepangrejo di Kecamatan Blora Kabupaten Blora mengalami krisis air bersih. Tidak adanya sumber mata air membuat desa tersebut menjadi langganan krisis air bersih.
Kadus Jepangrejo Kustadi Ramli mengatakan, saat musim kemarau tiba, Warga desa dipastikan mengalami krisis air bersih. Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun.
" Kalau Jepangrejo sudah tiap tahun kekurangan air. Kalau musim kemarau seperti saat ini, berapapun bantuan warga siap menerima," ungkapnya.
Kustadi mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari sumber air. Termasuk membuat sumur bor dalam. Namun sumber air tidak pernah ditemukan.
" Kalau disini dibuat sumur bor pun tidak keluar air. Justru sumber air ini ditemukan di sumur-sumur yang tidak dalam. Seperti sumur-sumur yang ada di sawah-sawah itu justru airnya masih banyak. Makanya harapan kami agar bantuan sumur-sumur bundar itu diperbanyak di area-area persawahan," ujarnya.
Salah satu warga Supangat mengatakan sudah dua bulan terakhir mengambil air di sumur yang ada di sekitar persawahan. Biasanya ia mengambil di waktu pagi dan sore.
" Sudah 2 bulanan ambil disini. Yang ada airnya ya disini. Kalau sumur-sumur di sekitar pemukiman sudah tidak ada airnya. Biasanya ambilnya pagi dan sore," ungkapnya.
Supangat menambahkan di sekitar sini ada beberapa sumur yang bisa dimanfaatkan warga. Namun saat ini warga lebih memilih membeli air daripada mengambil air di sumur.
" Sekarang gak antri mas. Banyak warga yang pilih beli air tangki. Kalau saya pilih ngangsu karena pengeluaran sudah banyak," jelasnya.
Kabarasta- Kemarau panjang membuat warga Desa Jepangrejo di Kecamatan Blora Kabupaten Blora mengalami krisis air bersih. Tidak adanya sumber mata air membuat desa tersebut menjadi langganan krisis air bersih.
Kadus Jepangrejo Kustadi Ramli mengatakan, saat musim kemarau tiba, Warga desa dipastikan mengalami krisis air bersih. Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun.
" Kalau Jepangrejo sudah tiap tahun kekurangan air. Kalau musim kemarau seperti saat ini, berapapun bantuan warga siap menerima," ungkapnya.
Kustadi mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari sumber air. Termasuk membuat sumur bor dalam. Namun sumber air tidak pernah ditemukan.
" Kalau disini dibuat sumur bor pun tidak keluar air. Justru sumber air ini ditemukan di sumur-sumur yang tidak dalam. Seperti sumur-sumur yang ada di sawah-sawah itu justru airnya masih banyak. Makanya harapan kami agar bantuan sumur-sumur bundar itu diperbanyak di area-area persawahan," ujarnya.
Salah satu warga Supangat mengatakan sudah dua bulan terakhir mengambil air di sumur yang ada di sekitar persawahan. Biasanya ia mengambil di waktu pagi dan sore.
" Sudah 2 bulanan ambil disini. Yang ada airnya ya disini. Kalau sumur-sumur di sekitar pemukiman sudah tidak ada airnya. Biasanya ambilnya pagi dan sore," ungkapnya.
Supangat menambahkan di sekitar sini ada beberapa sumur yang bisa dimanfaatkan warga. Namun saat ini warga lebih memilih membeli air daripada mengambil air di sumur.
" Sekarang gak antri mas. Banyak warga yang pilih beli air tangki. Kalau saya pilih ngangsu karena pengeluaran sudah banyak," jelasnya.
(Men/Redaksi)
Posting Komentar